Friday, December 26, 2025

Melacak Jejak Sejarah KH Abdullah Dipoyudo

Selepas Perang Diponegoro yang menguras anggaran pemerintah Kolonial. Belanda melakukan berbagai tindakan represif terhadap para pengikut Pangeran Diponegoro, yaitu penangkapan.

Dampak dari penangkapan ini, maka para pengikut Pangeran Diponegoro berpencar menyelamatkan diri ke berbagai daerah di Pulau Jawa.

Dari Mboro di Kulon Progo yang menjadi salahsatu basis perlawanan Diponegoro, Abdulloh, Umar, Ayahnya Pakde Wongso dan Mangunrejo harus pergi menuju Jawa Timur.

Mereka memilih membabat alas untuk mendirikan komunitas baru di daerah Lumajang. Tepatnya daerah Wada'an yang sekarang masuk desa Kalipepe dan Pondok Kobong di timur Sungai Bondoyudo

Ada satu pendapat lemah mengatakan bahwa nama nama asli KH Abdullah adalah Jemangan, kemudian adiknya bernama Jemangin dan yang bungsu bernama Jemangun.

Jemangan, Jemangin dan Jemangun ini meninggalkan daerahnya di Mataram karena pesatnya upaya misionaris melakukan kristenisasi di sana.

Jemangan ini kemudian mengubah namanya jadi Abdullah. Sedangkan Jemangin adalah ayah dari KH Abdi Manaf Lumajang. Adapun Jemangun adalah Buyut Mangun yang menetap di Pondok Kobong.

Riwayat ini berasal dari Mbah Nasifah istri Mbah H. Abdul Jalil.

Konon sewaktu Nyai Hj. Latifah pergi haji. Mbah Nasifah yang menemani KH Abdullah.

Suatu hari Buyut KH Abdullah bercerita kepada beliau tentang 3 bersaudara Jemangan, Jemangin dan Jemangun ini.

Riwayat ini kemudian diurai kembali oleh saudari kita Erma.

Ada banyak kelemahan riwayat 3 bersaudara Jemangan, Jemangin dan Jemangun ini.

Pertama, ini riwayat tunggal dan satu-satunya yang hanya bersumber dari Mbah Nafisah. Tidak ada riwayat lain yang menguatkan.

Kedua, ketika Mbah Nasifah menceritakan kepada saudari kita Erma, umur beliau sudah sepuh.

Ketiga, Mbah Nasifah statusnya menantu yang tentunya tidak seperti keturunan langsung yang memang dioernah-pernahkan dan dikenalkan langsung oleh orang tuanya srcara turun temurun.

Keempat, adik KH Abdullah yang ada di Pondok Kobong bernana Mangunrejo. Bukan Jemangun

Menurut Man Hambali (Mbah Ali), ketika beliau turun atau pulang dari perang gerilya, KH Abdullah sudah tinggal di depan, yaitu di tepi jalan raya, samping rumah Man Faqih bersama Nyai Tugirah.


No comments: